Kreativitas Dalam Bercerita Verbal Pada Perokok Aktif


Tugas Softskill Peng. Kreativitas & Keberbakat
Nama : Restu Maulana Irfan
Kelas & NPM :1PA03 & 19514098
Berikut adalah Versi dalam Website


Peng. Kreativitas & Keberbakat
“Kreativitas dalam bercerita verbal pada perokok aktif”


http://upload.wikimedia.org/wikipedia/id/1/19/Logo_Gunadarma.jpg


Lazuardi Imani Azhar Ba’bud (16514015)
Ayu Bunga Nindyasari (11514866)
Ade Rezza Julianto (10514193)
Restu Maulana Irfan (19514098)
Zulfahmi(1D514077)
1PA03


Fakultas Psikologi
Universitas Gunadarma
2015
 
BAB I
LATAR BELAKANG
Dewasa ini rokok semakin gencar meluas di berbagai tempat. Banyak negara– negara industri yang menilai bahwa merokok telah menjadi perilaku yang secara sosial dianggap kurang biasa untuk diterima. Di negara berkembang sendiri, penyuluhan tentang bahaya merokok belum dilaksanakan secara intensif. Hal ini selain karena industri rokok merupakan sumber pemasukan bagi negara dan sumber kesempatan kerja, juga dikarenakan disebagian besar negara – negara sedang berkembang, dana untuk ini walaupun ada, sangat kecil dibandingkan dengan dana yang dipergunakan oleh perusahaan –  perusahaan rokok untuk memasarkan rokok.
Kebiasaan merokok telah menjadi budaya diberbagai bangsa di belahan dunia. Mayoritas perokok diseluruh dunia ini, 47 persen adalah populasi pria sedangkan 12 persen adalah populasi wanita dengan berbagai kategori umur. Latar belakang merokok beraneka ragam, di kalangan remaja dan dewasa pria adalah faktor gengsi dan agar disebut jagoan, malahan ada salah satu pepatah menarik yang digunakan sebagai pembenar atas kebiasaan merokok yaitu `ada ayam jago diatas genteng, ngga merokok ngga ganteng`. Sedangkan kalangan orang tua, stres dan karena ketagihan adalah faktor penyebab keinginan untuk merokok. Seperti yang kita ketahui bahwa setiap batang rokok yang dinyalakan akan mengeluarkan lebih 4000 bahan kimia beracun dan boleh membawa maut.
Salah satunya ialah Nikotin, Nikotin diterima oleh reseptor asetikolin-nikotinik yang kemudian membaginya ke jalur imbalan dan jalur adrenergik. Pada jalur imbalan, perokok akan merasakan rasa nikmat, memacu system dopaminergik. Hasilnya perokok akan merasa tenang, daya pikir serasa lebih cemerlang, dan mampu menekan rasa lapar Sehingga daya kreativitas akan lebih terpacu, namun seperti kita ketahui bahwa merokok dapat menyebabkan otak menyusut dan memicu penyakit pikun atau Alzheimer. Sel-sel saraf akan menyusut pada bagian hippocampus dan korteks depan yang berfungsi menyimpan ingatan dan bagian lainya pada otak sehingga akan membuat seseorang akan berkurang kemampuan kognitifnya. Hal tersebut lah yang mendasari  penelitian kami yang bertujuan untuk menjawab paham yang berada pada masyarakat akan rokok dan  menjawab akan hubungan di antara pengaruh rokok terhadap otak , utamanya adalah “pengaruh kreativitas bercerita pada orang yang merokok”.
BAB II
DASAR TEORI
  1. Teori Rokok
Rokok adalah silinder dari kertas berukuran panjang antara 70 hingga 120 mm (bervariasi tergantung negara) dengan diameter sekitar 10 mm yang berisi daun-daun tembakau yang telah dicacah. Rokok dibakar pada salah satu ujungnya dan dibiarkan membara agar asapnya dapat dihirup lewat mulut pada ujung lainnya.
Rokok biasanya dijual dalam bungkusan berbentuk kotak atau kemasan kertas yang dapat dimasukkan dengan mudah ke dalam kantong. Sejak beberapa tahun terakhir, bungkusan-bungkusan tersebut juga umumnya disertai pesan kesehatan yang memperingatkan perokok akan bahaya kesehatan yang dapat ditimbulkan dari merokok, misalnya kanker paru-paru atau serangan jantung (walaupun pada kenyataannya itu hanya tinggal hiasan, jarang sekali dipatuhi).
Manusia di dunia yang merokok untuk pertama kalinya adalah suku bangsa Indian di Amerika, untuk keperluan ritual seperti memuja dewa atau roh. Pada abad 16, Ketika bangsa Eropa menemukan benua Amerika, sebagian dari para penjelajah Eropa itu ikut mencoba-coba menghisap rokok dan kemudian membawa tembakau ke Eropa. Kemudian kebiasaan merokok mulai muncul di kalangan bangsawan Eropa. Tapi berbeda dengan bangsa Indian yang merokok untuk keperluan ritual, di Eropa orang merokok hanya untuk kesenangan semata-mata. Abad 17 para pedagang Spanyol masuk ke Turki dan saat itu kebiasaan merokok mulai masuk negara-negara Islam.
Kandungan Zat Pada Rokok Beserta Efeknya Terhadap Kesehatan
Berikut adalah beberapa bahan kimia yang terkandung dalam rokok:
  • Nikotin, kandungan yang menyebabkan perokok merasa rileks.
  • Tar, yang terdiri dari lebih dari 4.000 bahan kimia yang mana 60 bahan kimia di antaranya bersifat karsinogenik.
  • Sianida, senyawa kimia yang mengandung kelompok cyano.
  • Benzene, juga dikenal sebagai bensol, senyawa kimia organik yang mudah terbakar dan tidak berwarna.
  • Cadmium, sebuah logam yang sangat beracun dan radioaktif.
  • Metanol (alkohol kayu), alkohol yang paling sederhana yang juga dikenal sebagai metil alkohol.
  • Asetilena, merupakan senyawa kimia tak jenuh yang juga merupakan hidrokarbon alkuna yang paling sederhana.
  • Amonia, dapat ditemukan di mana-mana, tetapi sangat beracun dalam kombinasi dengan unsur-unsur tertentu.
  • Formaldehida, cairan yang sangat beracun yang digunakan untuk mengawetkan mayat.
  • Hidrogen sianida, racun yang digunakan sebagai fumigan untuk membunuh semut. Zat ini juga digunakan sebagai zat pembuat plastik dan pestisida.
  • Arsenik, bahan yang terdapat dalam racun tikus.
  • Karbon monoksida, bahan kimia beracun yang ditemukan dalam asap buangan mobil dan motor.
Meskipun demikian, hanya tar dan nikotin saja yang dicantumkan dalam bungkus rokok.
  1. Teori Otak
Otak (bahasa Inggris: encephalon) adalah pusat sistem saraf (bahasa Inggris: central nervous system, CNS) pada vertebrata dan banyak invertebrata lainnya.
Otak terbentuk dari dua jenis sel: glia dan neuron. Glia berfungsi untuk menunjang dan melindungi neuron, sedangkan neuron membawa informasi dalam bentuk pulsalistrik yang di kenal sebagai potensi aksi. Mereka berkomunikasi dengan neuron yang lain dan keseluruh tubuh dengan mengirimkan berbagai macam bahan kimia yang disebut neurotransmiter. Neurotransmiter ini dikirimkan pada celah yang dikenal sebagai sinapsis.Avertebrata seperti serangga mungkin mempunyai jutaan neuron pada otaknya, vertebrata besar bisa mempunyai hingga seratus miliar neuron.
Neuron otak mengandung dua jenis asam lemak PUFA (bahasa Inggris: polyunsaturated fatty acids), yaitu asam arakidonat (AA) dan asam dokosaheksaenoat (DHA) yang terletak pada posisi sn2 dari molekulfosfogliserida dalam membran sel neuron. PUFA dapat terlepas dari fosfogliserida oleh stimulasi fosfolipasePLA-2. Molekul AA yang terlepas akan diproses oleh enzimsiklo oksigenase menjadi prostaglandin dan tromboksana, atau diproses oleh enzim5-lipo oksigenase menjadi lipoksin. Baik AA maupun DHA dapat diproses oleh enzim lipo oksigenase guna membentuk senyawa turunan hidroksi dan leukotriena.
Otak mengatur dan mengkordinir sebagian besar gerakan, perilaku dan fungsi tubuh homeostasis seperti detak jantung, tekanan darah, keseimbangan cairan tubuh dan suhu tubuh. Otak juga bertanggung jawab atas fungsi seperti pengenalan, emosi, ingatan, pembelajaran motorik, dan segala bentuk pembelajaran lainnya.
  1. Pengaruh Rokok bagi Otak Manusia
Khusus untuk organ otak, merokok bisa menyebabkan otak menyusut dan memicu penyakit pikun atau Alzheimer. Sel-sel saraf akan menyusut pada bagian hippocampus dan korteks depan yang berfungsi menyimpan ingatan.
Bukti efek negatif dari kebiasaan merokok kembali diungkap oleh sebuah penelitian. Para ahli di Inggris menunjukkan bahwa merokok dapat mempercepat penurunan kualitas memori, cara berpikir, dan belajar khususnya di kalangan pria. Temuan ini menambah daftar panjang alasan bagi para perokok untuk segera berhenti.
Dalam riset terbaru yang dipublikasikan pada 6 Februari 2012 dalam jurnal Archives of General Psychiatry, Severine Sabia dari University College London beserta rekan-rekannya menganalisis data sekitar 5.100 pria dan lebih dari 2.100 wanita. Penelitian dilakukan dengan cara menilai serta menganalisis responden terkait fungsi mental, seperti memori, pembelajaran, dan pengolahan pikiran.
Penilaian fungsi mental para responden dilakukan selama tiga kali selama kurun waktu 10 tahun. Sedangkan penilaian status merokok responden dilakukan enam kali dalam kurun waktu 25 tahun. Usia rata-rata responden adalah sekitar 56 tahun ketika penilaian pertama dilakukan.
Peneliti menemukan bahwa di kalangan kaum pria, merokok berhubungan dengan merosotnya kemampuan otak yang lebih cepat. Selain itu, penurunan yang lebih masif terjadi pada pria yang terus merokok selama masa penelitian.
Di antara responden yang berhenti merokok, upaya meninggalkan rokok rupanya tidak terlalu membantu. Peneliti menemukan bahwa pria yang berhenti merokok dalam 10 tahun sebelum penilaian pertama dilakukan ternyata masih berisiko mengalami penurunan mental, terutama terkait fungsi "eksekutif" pada otak. Namun, mereka yang telah berhenti merokok dalam jangka waktu lama, cenderung mengalami penurunan fungsi otak lebih lambat.
  1. Teori Kreativitas
Berfikir kreatif merupakan cara berfikir dimana individu mencoba menemukan hubungan-hubungan baru untuk memperoleh jawaban baru terhadap masalah. Dalam berfikir kreatif ini seseorang dituntut untuk dapat memiliki lebih dari satu jawaban terhadap suatu persoalan dan untuk itu maka diperlukan imajinasi.
Kreativitas dalam perkembangannya sangat sangat terkait dengan empat aspek, yaitu:
  1. Aspek Pribadi
Ditinjau dari aspek pribadi, kreativitas muncul dari interaksi pribadi yang unik dengan lingkungannya.
  1. Aspek Pendorong
Ditinjau dari aspek pendorong kreativitas dalam perwujudannya memerlukan dorongan internal maupun eksternal dari lingkungan.
  1. Aspek Proses
Ditinjau sebagai proses, menurut Torrance (1988) kreativitas adalah proses merasakan dan mengamati adanya masalah, membuat dugaan tentang kekurangan (masalah) ini, menilai, dan menguji dugaan atau hipotesis, kemudian mengubah dan mengujinya lagi, dan akhirnya menyaipaikan hasil-hasilnya.
  1. Aspek Produk
Definisi produk kreativitas menekankan bahwa apa yang dihasilkan dari proses kreativitas adalah sesuatu yang baru, orisinil, dan bermakna.
  1. Tahap – Tahap Kreativitas
Kreativitas tidak timbul serta-merta, tetapi melalui proses. Proses kreatif menurut Bobbi De Porter & Mike Hernacki (2001:301) dalam bukunya Quantum Learning mengalir melalui lima tahap, hatap-tahap tersebut sebagai berikut :
  • Persiapan Mendifinisikan masalah, tujuan, atau tantangan.
  • Inkubasi Mencerna fakta-fakta dan mengolahnya dalam pikiran.
  • Iluminasi Mendesak ke permukaan, gagasan-gagasan bermunculan.
  • Verifikasi Memastikam apakah solusi itu benar-benar memecahkan masalah
  • Aplikasi Mengambil langkah-langkah untuk menindaklanjuti solusi tersebut
  1. Ciri-ciri Kreativitas
Menurut David Cambell ciri-ciri kreativitas terbagi tiga kategori, yaitu:
  • Ciri-ciri pokok: kunci untuk melahirkan ide, gagasan, ilham, pemecahan, cara baru, penemuan.
  • Ciri-ciri yang memungkinkan: yang membuat mampu mempertahankan ide-ide kreatif, sekali sudah ditemuka tetap hidup.
  • Ciri-ciri sampingan: tidak langsung berhubungan dengan penciptaan atau menjaga agar ide-ide yang sudah ditemukan tetap hidup, tetapi kerap mempegaruhi perilaku orang-orang kreatif.


  1. Pengertian, Faktor dan Perkembangan Kreativitas Verbal
Kreativitas verbal terdiri dari 2 kata, yaitu kreativitas dan verbal. Thrustone, yang dikutip Azwar (1996) menyatakan bahwa verbal adalah pemahaman akan hubungan kata, kosakata, dan penguasaankomunikasi.Sinolungan (2001) menyatakan bahwa kreativitas verbal adalah kemampuan berkomunikasi yang diawali dengan pembentukan ide melalui kata-kata, serta mengarahkan fokus permasalahan pada penguasaan bahasa atau kata-kata, yang akan menentukan jelas tidaknya pengertian mengenai ide yang disampaikan.Torrance (Munandar, 1999b) mengungkapkan kreativitas verbal sebagai kemampuan berpikir kreatif yang terutama mengukur kelancaran, kelenturan, dan orisinalitas dalam bentuk verbal. Bentuk verbal dalam tes Torrance berhubungan dengan kata dan kalimat.


Berdasarkan uraian sebelumnya dapat disimpulkan bahwa kreativitas verbal adalah kemampuan membentuk ide-ide atau gagasan baru, serta mengkombinasikan ide-ide tersebut kedalam sesuatu yang baru berdasarkan informasi atau unsur-unsur yang sudah ada, yang mencerminkan kelancaran, kelenturan, orisinalitas dalam berpikir divergen yang terungkap secara verbal.
Faktor yang mempengaruhi kreativitas verbal
Munandar (1999) mengatakan bahwa lingkungan yang responsif (keluarga, sekolah, dan masyarakat) merupakan faktor utama terjadinya proses perkembangan inteligensi dan merupakan dasar yang kuat untuk pertumbuhan kreativitas verbaL. Munandar (1988) menambahkan faktor-faktor yang mempengaruhi kreativitas verbal adalah Kelancaran berpikir (fluency of thinking) yang menggambarkan banyaknya gagasan yang keluar dalam pemikiran seseorang, Fleksibilitas (keluwesan) yaitu kemampuan untuk menggunakan bermacam-macam pendekatan dalam mengatasi persoalan, Orisinalitas (keaslian) yaitu kemampuan seseorang untuk mencetuskan gagasanasli, Elaborasi yaitu kemampuan untuk mengembangkan ide-ide dan menguraikan ide-ide tersebut secara terperinci. Keempat faktor tersebut oleh Munandar digunakan untuk menyusun Tes KreativitasVerbal.Dari uraian sebelumnya dapat disimpulkan bahwa faktor yang mempengauhi kreativitas verbal adalah waktu, kesempatan menyendiri, sarana, lingkungan, dan kesempatan memperoleh pengetahuan. Selain itu faktor lain yang juga mempengaruhi kreativitas verbal adalah kelancaran berpikir (fluency of thinking), fleksibilitas (keluwesan), originalitas (keaslian), dan elaborasi.
Faktor-faktor yang menghambat Kreativitas Verbal
Menurut Lehman (dalam Hurlock, 1996) kreativitas akan melemah apabila dihambat oleh lingkungan,seperti:
  1. Kesehatan yang buruk. Dapat mematikan daya kreativitas anak karena anak tidak mampu mengembangkandiri.
  2. Lingkungan keluarga yang kurang baik. Tidak memberi dorongan untuk meningkatkan kreativitas.
  3. Adanya tekanan ekonomi. Mempersulit anak untuk mengembangkan bakat kreatifnya, bila anak membutuhkandana,misalnya membeli buku.
  4. Kurangnya waktu luang. Tidak adanya kesempatan dan kebebasan pada anak untuk mengembangkanbakatkreatifnya.
Berdasarkan uraian sebelumnya dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor yang menghambat kreativitas verbal adalah : kesehatan yang buruk, lingkungan keluarga yang kurang baik, adanya tekanan ekonomi, kurangnya waktu luang, pembatasan eksplorasi, membatasi khayalan anak, sikap orang tua yang terlalu melindungi, dan pengaturan waktu yang terlalu ketat.
Perkembangan Kreativitas Verbal
Bahtiar (Ali Sjahbana, 1983) berpendapat bahwa salah satu faktor penting yang memungkinkan kreativitas berkembang adalah adanya kebutuhan sosial yang menghendaki suatu bentuk, struktur, pola atau sistem yang baru, karena apa yang telah ada dianggap tidak lagi memadai atau tidak bisa memenuhi kebutuhan. Pada keadaan tertentu orang-orang yang berhubungan satu sama lain bisa merasa kurang senang, tidak puas, dengan bentuk dan sifat-sifat hubungan mereka, sehingga mereka merasakan perlu penciptaan bentuk-bentuk, pola-pola atau sistem hubungan yang baru.
Soemardjan (1983) menekankan bahwa timbul, tumbuh, dan berkembangnya kreativitas individu tidak lepas dari pengaruh kebudayaan serta pengaruh masyarakat tempat individu tersebut tinggal.
Munandar (1999) menyebutkan bahwa mengembangkan kreativitas meliputi:
Pengembangan segi kognitif antara lain dilakukan dengan merangsang kelancaran, kelenturan dan keaslian dalam berpikir.Pengembangan segi afektif antara lain dilakukan dengan memupuk sikap dan minat untuk bersibuk diri secara kreatif. Pengembangan segi psikomotorik dilakukan dengan menyediakan sarana dan prasarana pendidikan yang memungkinkan siswa mengembangkan keterampilannya dalam membuat karya-karya yang produktif dan inovatif.
Berdasarkan uraian sebelumnya dapat disimpulkan bahwa perkembangan kreativitas verbal meliputi segi kognitif, afektif, dan psikomotorik. Selain itu pengaruh kebudayaan serta pengaruh masyarakat tempat individu tersebut tinggal juga dapat mempengaruhi tumbuh dan berkembangnya kreativitas verbal.


BAB III
PROSES PENGAMBILAN DATA DAN HASIL PENELITIAN
  1. Subjek Penelitian dan Sampel
Kriteria Subyek Penelitian:
  • Penelitian ini mengambil subyek penelitian berdasarkan kriteria:
  • Berusia antara 18 – 30 tahun.
  • Perokok aktif.
  • Berada dalam kondisi yang sehat.
  • Wilayah depok dan sekitarnya.
Dalam penelitian ini  jumlah Subyek yang diambil unuk menjadi sample sebanyak 30 orang yang terdiri dari kritea di atas.
  1. Alat Pengumpul Data
Alat pengumpul data yang akan digunakan untuk  penelitian ini adalah peneliti, perekam suara dan Instruksi Cerita yang diminta oleh peneliti :
  • Peneliti  tediri dari Ayu Bunga Nindiyasari, Ade Reza Julianto, Lazuardi Imani Azhar Ba’bud, Restu Maulana, dan Zulfahmi.
  • Perekam suara yang tediri dari Smartphone masing – masing peneliti
  • Instruksi bercerita yang terdiri dari dua cerita dan kondisi, yaitu di saat tidak merokok Subjek diminta untuk menceritakan apa yang terjadi apabila ia kaya dan saat merokok Subjek penelitian diminta untuk menceritakan apa yang terjadi apa bila ia terkenal.


  1. Proses Penelitian
Dilakukan dengan mewawancarai ke-30 sample dengan meminta menceritakan terdiri dari dua cerita dan kondisi, yaitu di saat tidak merokok Subjek diminta untuk menceritakan apa yang terjadi apabila ia kaya dan saat merokok Subjek penelitian diminta untuk menceritakan apa yang terjadi apa bila ia terkenal.
  1. Cara Kerja Penelitian
Peneliti merekam apa yang di ceritakan oleh subjek lalu menilai dengan katagori yang terbagi menjadi tiga, yaitu Biasa, Kompleks, dan Sangat kompleks yang ketiga tersebut dinilai berdasarkan Jalan cerita orang tersebut, ide - ide dan gagasan di dalam bercerita, kelogisan, pemilihan dan penggunaan bahasa, serta unsur – unsur dalam cerita.
  1. Hasil Pemerolehan Data
Peneltian yang di lakukan kepada ke-30 orang yang terdiri dari kritea yang telah di sebutkan pada bagian “A”,dan dilakukan dengan proses wawancara dengan mengajukan dua pertanyaan yang dilakukan dalam kondisi yang berbada yakni dalam keadaan merokok dan tidak merokok. Sehingga   menghasilkan data yang tertera pada tabel berikut :
Keterangan SK adalah Kompleks, K adalah Kompleks, dan B adalah Biasa. Dan Nama di samarkan.
NO
Nama
Jenis kelamin
Frekuensi merokok
Lama merokok/Tahun
Hasil Test kreativitas
Hari
Minggu
Bulan
Saat Tidak Merokok
Saat merokok
1
A
L
5
35
175
3
SK
K
2
I
L
12
80
960
2
K
K
3
V
L
10
68
680
2
K
K
4
Y
L
4
12
48
1
B
B
5
B
L
5
36
180
3
SK
B
6
C
L
7
42
294
2
B
B
7
B
L
8
40
320
4
K
B
8
M
L
10
30
300
5
K
B
9
R
L
11
77
847
3
B
B
10
P
L
13
91
1183
2
K
B
11
C
L
8
56
448
3
SK
K
12
R
L
5
45
225
5
B
B
13
G
L
4
8
32
3
SK
K
14
B
L
5
7
35
2
K
SK
15
T
L
7
6
42
3
B
B
16
S
L
24
168
720
11
K
B
17
S
L
7
49
169
6
K
K
18
R
L
12
84
360
9
SK
K
19
S
L
12
84
360
13
B
B
20
A
L
6
42
180
6
K
B
21
T
L
6
42
180
9
B
K
22
Y
L
6
42
180
9
K
B
23
A
L
16
112
480
5
SK
B
24
D
L
16
112
480
1
SK
K
25
R
L
7
49
169
8
K
B
26
W
L
12
84
360
3
K
B
27
F
L
20
140
600
8
SK
B
28
I
L
16
112
480
5
K
K
29
D
L
5
35
150
5
SK
K
30
R
L
16
112
480
5
SK
K


Sehingga dari tabel yang tertera tersebut diperoleh bahwa perubahan penilaian dari keadaan tidak merokok sampai merokok adalah :
  • Sangat Komples menjadi Kompleks terdapat tujuh
  • Kompleks menjadi Kompleks terdapat empat
  • Biasa menjadi biasa terdapat enam
  • Sangat Kompleks menjadi biasa terdapat tiga
  • Kompleks menjadi biasa terdapat dua belas
  • Kompleks menjadi sangat kompleks terdapat satu
  • Biasa menjadi kompleks terdapat dua


BAB IV
KESIMPULAN
Di dalam kandungan rokok terdapat zat adiktif yang bernama dopamin, nikotin, tar, dan lainnya yang dapat mempercepat penurunan kualitas memori, cara bercerita dan belajar khusus nya dikalangan pria. Bedasarkan data yang kami peroleh dari 30 sample dapat terlihat ketika seseorang bercerita sebelum merokok, cerita yang mereka ceritakan lebih kreative dari pada saat mereka merokok. Sehingga dapat disimpulkan bahwa merokok membuat kreativitas bercerita seseorang menjadi menurun. Dikarenakan merokok dapat membuat penurunan fungsi otak lebih lambat dan lainnya.
Daftar Pustaka
Aditama. (2002). Rokok dan Kesehatan. Jakarta : Universitas Indonesia
Notoatmojo, S. (2005). Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta.
Sitepoe, M. (2000). Kekhususan Rokok Indonesia. Jakarta : PT Grasindo.
Gunawan Tri. 2011. Optimalkan Otak Kanan-Kiri Otak Tengah Otak Kecil. Jakarta: Penebar
Yusuf. 2002. Psikologi Perkembagan Anak dan Remaja. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Mulyati. 2005. Psikologi Belajar. Yogyakarta: CV Andi Offset.
Anik Pamilu. 2007. Mengembangkan Kreativitas dan Kecerdasan Anak. Yogyakarta: Citra Media
Utami Munandar. 1992. Mengembangkan Bakat dan Kreativitas Anak Sekolah. Jakarta: Gramedia.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KESEHATAN MENTAL MENURUT CARL ROGERS

TIPS TETAP SEHAT DI MUSIM HUJAN