TEORI KEPRIBADIAN SEHAT MENURUT ABRAHAM MASLOW
Abraham Maslow (lahir 1 April 1908 – meninggal 8 Juni 1970 pada umur 62 tahun) adalah teoretikus yang banyak memberi inspirasi dalam teori kepribadian. Ia juga seorang psikologyang berasal dari Amerika dan menjadi seorang pelopor aliran psikologi humanistik. Ia terkenal dengan teorinya tentang hierarki kebutuhan manusia.
Menurut Maslow ada lima hierarki kebutuhan dasar
manusia (five hierarchy of needs), Abraham Maslow lantas
menciptakan sebuah model kebutuhan manusia yang terdiri dari beberapa tingkat.
Mulai dari yang terendah sampai tertinggi. Kebutuhan yang termasuk di dalamnya
adalah:
1.
Kebutuhan dasar
atau kebutuhan psikologis (Biological and Physiological
Needs) Adalah kebutuhan-kebutuhan yang bersifat logis guna memenuhi
aspek jasmaniah, seperti makan, tidur, minum, istirahat, rekreasi, dan seksual.
2.
Kebutuhan akan
keamanan dan perlindungan (Safety needs) Adalah
kebutuhan akan rasa aman. Hal ini ditandai dengan keinginan terhindar dari rasa
takut, waswas atau ancaman yang membahayakan bagi dirinya. Misalnya, jaminan
rasa aman terhadap nyawanya terhindar dari pembunuhan dan harta bendanya aman
dari pencurian
3.
Kebutuhan akan
kehidupan sosial (Belonging needs and love needs) Adalah
kebutuhan untuk menjalin hubungan dengan orang lain. Individu diberi kesempatan
dan kebebasan tanpa diskriminasi untuk menjalin interaksi sosial dengan siapa
saja. Mereka bergaul dengan semua orang tanpa memandang latar belakang suku,
agama, status sosial, pendidikan, jenis kelamin, dan warna kulit. Misalnya,
rasa memiliki, penerimaan, pertemanan, dan cinta.
4.
Kebutuhan yang
berhubungan dengan ego manusia (Esteem needs) Adalah
kebutuhan untuk menghargai dan dihargai orang lain. Dalam hal ini, termasuk
kebutuhan untuk mencintai ataupun dicintai. Secara operasional, dapat
digambarkan adanya kebebasan untuk memberikan penghargaan kepada siapa saja.
Demikian pula ia pun berhak untuk memperoleh penghargaan dari siapa saja tanpa
pandang bulu. Hal ini berarti individu berhak menikah dan hidup bersama dalam
keluarga dengan siapa saja.
5.
Kebutuhan
aktualisasi diri (Self actualization) Adalah
kebutuhan untuk mewujudkan seluruh potensi agar berkembang secara optimal.
Konsekuensi dari konsep ini, mengingatkan adanya persamaan pada setiap individu
untuk memperoleh kesempatan mengembangkan diri melalui jalur pendidikan formal
dan non formal. Ia pun memperoleh kebebasan berkarya guna mewujudkan aspirasi,
cita-cita, minat-bakat dan kreativitas, tanpa kekangan, dan halangan atau
hambatan dari siapa saja. Contohnya: Seorang musisi harus bermusik, seniman
harus melukis, dan penyair harus menulis. Kebutuhan ini membuat diri mereka
merasa dalam tanda-tanda kegelisahan. Orang itu merasa di tepi, tegang, kurang
sesuatu, singkatnya, gelisah. Jika seseorang lapar, tidak aman, tidak dicintai
atau diterima, atau kurang harga diri, sangat mudah untuk mengetahui apa orang
itu gelisah tentang. Hal ini tidak selalu jelas apa yang seseorang ingin ketika
ada kebutuhan untuk aktualisasi diri.
Maslow
mengungkapkan bahwa manusia harus memuaskan kebutuhannya masing-masing tingkat,
bergerak dari bawah ke atas, dari waktu ke waktu.
2 2. Kepribadian yang Sehat Menurut Pendapat Abraham Maslow
Menurut Abraham Maslow, pribadi yang sehat adalah
pribadi yang mampu mengaktualisasikan diri. Bagi Maslow, motivasi seseorang
untuk aktualisasi diri bagi pribadi yang sehat tidak hanya didasarkan oleh
kebutuhan-kebutuhan untuk memenuhi kekurangannya (deficit motivates),
tetapi oleh metamotivasi, yaitu nilai-nilai
hidup termasuk kebenaran, keindahan, kebijaksanaan, kedamaian, kesatuan,
kemerdekaan, dst. Nilai-nilai ini oleh Maslow disebut juga B-Values. Nilai-nilai ini menjadi sumber yang
mengarahkan dan mengembangkan kepribadian manusia
Menurut Maslow,
syarat untuk mencapai aktualisasi diri adalah memuaskan kebutuhan-kebutuhan
yang tadi telah disebutkan, yaitu memuaskan hierarki empat kebutuhan yang ada,
diantaranya yang pertama adalah kebutuhan akan fisiologis, kebutuhan akan rasa
aman, cinta kasih, serta penghargaan diri. Dan kebutuhan ini harus terpenuhi
sebelum timbul kebutuhan akan aktualisasi diri.
1.
Perbedaan Meta
Needs dan Deficiency Needs
No
|
Meta
Needs
|
Deficiency
Needs
|
1
|
Ketika basic needs dalam hierarki Maslow telah
terpenuhi kebutuhan aktualisasi diri dan pemahaman kognitif muncul. Manusia dimotfasikan
oleh meta needs.
|
Kebutuhan
akan dorongan fisiologis seperti: rasa lapar, haus, oksigen dan seks
|
2
|
Meta needs
tidak bersifat hirarkhis
|
Kebutuhan
akan rasa aman, meliputi: kebutuhan akan perlindungan, keamanan, hukum,
kebebasan dari rasa takut, dan kecemasan.
|
3
|
Meta needs
merupakan pembawaan manusia sebagaimana basic needs
|
Kebutuhan
untuk memiliki, meliput: kebutuhan untuk berteman, berkeluarga, atau
beroganis
|
4
|
Bila tidak
terpenuhi mengakibatkan orang-orang mengalami metapologi
|
Kebutuan akan
harga diri, meliputi: pengahrgaan yang didasarkan atas respek terhadap
kemampuan, kemandirian, dan perwujudan kita sendiri, dan juga penghargaan
atas penilaian orang lain.
|
Metapologi meta needs diantaranya:
Kebenaran,keindahan,kesatuan,penuh energi,keunikan individualitas,
kesempurnaan,kepedulian,penyelesaian, dsb.
Sifat-sifat kebutuhan dasar ( Deficiency Needs) :
1.
Ketiadaannya
menimbulkan penyakit
2.
Keberadaannya
mencegah penyakit
3.
Pemulihannya
menyembuhkan penyakit
4. Dalam situasi
tertentu yang sangat kompleks dan di mana orang bebas memilih, orang yang
kekurangan kebutuhan akan mengutamakanpemuasan kebutuhan ini dibandingkanjenis
kepuasan yang lain.
5.
Kebutuhan ini
tidak aktif, lemah, atau secara fungsional tidak terdapat pada orang yang
sehat.
3. Ciri-ciri “Actualized People”
·
Mengamati
Realitas Secara Efisien
Mereka tidak
memandang dunia hanya sebagaimana mereka inginkan atau butuhkan, tapi mereka
melihatnya sebagaimana adanya. Bahwa pengaktualisasi diri adalah hakim yang
teliti pada orang lain, mampu menemukan dengan cepat penipuan dan
ketidakjujuran.
·
Penerimaan Umum
atas Kodrat, Orang-orang Lain dan Diri Sendiri
Orang yang
mengaktualisasikan diri menerima diri mereka, kelemahan dan kekuatan mereka
tanpa keluhan atau kesusahan. Sesungguhnya, mereka tidak terlampau banyak
memikirkannya.
·
Spontanitas,
Kesederhanaan, Kewajaran
Dalam semua
segi kehidupan, pengaktualisasian diri bertingkah laku secara terbuka dan
langsung tanpa berpura-pura. Mereka tidak harus menyembunyikan emosi mereka,
tapi dapat memperlihatkan emosi mereka dengan jujur. Dalam istilah sederhana,
kita dapat berkata, orang ini bertingkah laku secara kodrati, yakni sesuai
dengan kodrat mereka.
·
Fokus pada
Masalah-masalah di Luar Diri Mereka
Orang yang
mengaktualisasikan diri yang dipelajari Maslow, melibatkan diri pada pekerjaan.
Tanpa pengecualian, mereka memiliki suatu perasaan akan tugas yang menyerap
mereka dan mereka mengabdikan kebanyakan energi mereka kepadanya. Bahwa tidak
mungkin menjadi orang yang mengaktualisasikan diri tanpa perasaan dedikasi ini.
·
Kebutuhan akan
Privasi dan Independensi
Orang yang mengaktualisasikan diri memiliki suatu
kebutuhan yang kuat untuk pemisahan dan kesunyian. Meskipun mereka tidak
menjauhkan diri dari kontak dengan manusia, mereka rupanya tidak membutuhkan
orang lain. Mereka tidak tergantung pada orang lain untuk kepuasan mereka
dengan demikian mungkin mereka menjauhkan diri dan tidak ramah. Tingkah laku
dan perasaan mereka sangat egosentris dan terarah pada diri mereka sendiri.iniartinya mereka memiliki kemampuan untuk
membentuk pikiran, mencapai keputusan, dan melaksanakan dorongan dan disiplin
mereka sendiri.
·
Berfungsi
secara Otonom
Kemampuan
pengaktualisasian diri berfungsi secara otonom oleh motif kekurangan, maka
mereka tidak lagi di dorong oleh motif kekurangan, maka mereka tidak tergantung
pada dunia yang nyata untuk kepuasan mereka karna pemuasan dari motif
pertumbuhan datang dari dalam. Sebaliknya pemuasan akan cinta, penghargaan, dan
kebutuhan lain yang lebih rendah tergantung pada sumber dari luar.
·
Apresiasi yang
Senantiasa Segar
Pengaktualisasi
diri senantiasa menghargai pengalaman tertentu bagaimana seringnya pengalaman
itu terulang, dengan suatu perasaan kenikmatan yang segar, perasaan terpesona,
dan kagum. Suatu pandangan yang bagus atau menyegarkan pada dorongan setiap
hari untuk bekerja.
·
Pengalaman
Mistik atau “Puncak”
Ada kesempatan
dimana orang yang mengaktualisasikan diri mengalami ekstase, kebahagiaan,
perasaan terpesona yang hebat dan meluap-luap, sama seperti pengalaman
keagamaan yang mendalam. Selama pengalaman puncak ini, yang dianggap Maslow
adalah biasa dikalangan orang yang sehat, diri di lampaui, dan orang itu
digenggam oleh suatu perasaan kekuatan, kepercayaan dan kepastian, suatu
perasaan yang dalam bahwa tidak ada sesuatu yang tidak dapat diselesaikannya
atau menjadi.
·
Minat Sosial
Pengaktualisasikan
diri memiliki perasaan empati dan afeksi yang kuat dan dalam pada semua
manusia, juga suatu keinginan untuk membantu kemanusiaan.
·
Hubungan
Antarpribadi
Pengaktualisasian
diri mampu mengadakan hubungan yang lebih kuat dengan orang lain dari pada
orang yang memiliki kesehatan jiwa yang biasa. Mereka mampu memiliki cinta yang
lebih besar dan persahabatan yang lebih dalam, dan identifikasi yang lebih
sempurna dengan individu lain.
·
Struktur Watak
Demokratis
Orang yang
sangat sehat membiarkan dan menerima semua orang tanpa memperhatikan kelas
sosial, tingkat pendidikan, atau agama, ras. Perbedaan serupa itu tidak masalah
bagi pengaktualisasian diri. Tetapi tingkah laku mereka lebih dalam dari pada
toleransi.
·
Perbedaan
antara Sarana dan Tujuan, antara Baik dan Buruk
Pengaktualisasian
diri membedakan dengan jelas antara sarana dan tujuan. Bagi mereka, tujuan atau
cita-cita jauh lebih penting dari pada sarana untuk mencapainya. Akan tetapi,
hal ini lebih sulit karna kegiatan dan pengalaman tertentu yang merupakan
sarana bagi orang yang kurang sehat kerap dianggap oleh pengaktualisasian diri
sebagai tujuan dalam dirinya sendiri.
·
Perasaan Humor
yang Tidak Menimbulkan Permusuhan
Orang yang
sepenuhnya sehat berbeda dari individu biasa dalam apa yang mereka anggap humor
yang menyebabkan mereka tertawa. Orang yang kurang sehat menertawakan tiga
macam humor: humor permusuhan yang menyebabkan seseorang merasakan sakit, humor
superiroritas yang mengambil keuntungan dari perasaan rendah diri orang lain
atau kelompok dan humor pemberontakan terhadap penguasa yang berhubungan dengan
suatu situasi Oedipus atau percakapan cabul.
·
Kreativitas
Kreativitas
merupakan suatu sifat yang akan diharapkan seseorang dari pengaktualisasian
diri. Mereka adalah asli, inventif, dan inofativ, meskipun tidak selalu dalam
pengertian menghasilkan suatu karya seni; tidak semua mereka dalah penulis,
seniman, atau pengubah lagu.
·
Resistensi
Terhadap Inkulturasi
Pengaktualisasian
diri dapat berdiri sendiri dan otonom, mampu melawan dengan baik pengaruh
sosial, untuk berpikir atau bertindak menurut cara tertentu. Mereka
mempertahankan otonomi batin, tidak terpengaruh oleh kebudayaan mereka,
dibimbing oleh diri mereka bukan oleh orang lain.
DAFTAR PUSTAKA
:
Asmadi. Teknik
Prosedural Keperawatan: Konsep dan Aplikasi Kebutuhan Dasar Klien. (2008).
Jakarta: Salemba Medika.
Dariyo, Agoes. Psikologi Perkembangan Dewasa
Muda. (2008). Jakarta: PT. Grasindo
Pohan, A.H, Be A Smart Leader, Rahasia di
Balik Kesuksesan CEO dan Manajer Hebat. (2010). Yogyakarta: Pustaka
Grhatama (Anggota IKAPI).
Riyanto, Theo. Jadikan Dirimu Bahagia.
(2006). Yogyakarta: Kanisius (Anggota IKAPI)

Komentar
Posting Komentar